Senin , Februari 19 2018
Home / Cerpen Hikmah / Izinkan aku memilikimu

Izinkan aku memilikimu

Izinkan aku memilikimu

Panas terik membuat kerongkongan ku terasa perih dan kering. Mata ku melirik kanan dan kiri mencari cari dimana keberadaan warung. Tubuhku mulai lemas karena kondisi kemarau yang banyak menyerap energi ku. Sembari berjalan menelusuri trotoar mata ku tak henti mencari ke sekeliling dimana keberadaan warung. Setelah berjalan lumayan jauh dan rasanya aku sudah mulai putus asa, ternyata diseberang sana aku melihat apa yang sedang aku cari. “Ah ini dia warungnya .. ” tubuhku yang sudah tak kuasa menahan dehidrasi ini langsung menghampiri warung itu, tanpa sabar aku bergegas menuju warung itu, aku membeli beberapa makanan dan minuman untuk menghilangkan dahagaku ini dan bekal perjalanan ku. Saat transaksi dengan penjaga toko selesai aku beranjak menuju terminal. Tak jauh dari toko itu aku  aku sudah menampaki terminal di depanku.

Tak terasa aku sudah tiba di terminal, aku bergegas mencari bus yang sesuai dengan alamat kampung ku dan memulai perjalanan yang cukup melelahkan. Hanya membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai ke kampungku. Sepanjang perjalanan aku terus mengamati keluar, terlihat gedung gedung menjulang tinggi, kendaraan berdesakkan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Aku berfikir bahwa tidak ada salah nya Sebelum aku pulang kerumah menyempatkan mampir untuk mampir ke rumah sahabatku.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai dirumah sahabatku, senang rasanya bisa berjumpa lagi setelah 1 taun lamanya kita terpisah oleh massa yang telah habis. Yaa masa SMA. Aku dan sahabatku telah berteman akrab selama 3 taun. Dulu saat aku masih kelas 1 SMA rita adalah teman sebangku ku, bukan hanya panter ku saja. Dia juga sudah seperti keluarga bagiku.

Aku : “assalamualaikum”

Mama rita : “alaikumsalam. Ayo silahkan duduk mama mau ambilkan minum untukmu”

Rita : “gausah repot-repot mah”

Mama Rita : “ah engga kok, Oiya kenalin ini om nya rita. Namanya om adi.

Rani : “hai om Adi, aku Rani”

Mama Rita : “Di tolong temenin rani dulu yaa. Mba mau ambil minum”

Om Adi : “oh Rani, iya saya adi.

Rani : (senyum)

Om Adi : ‘kamu kerja dimana? Saya denger kabar dari rita katanya kamu sudah bekerja”

Rani : “iya om. Saya kerja di jakarta”

Om Adi : “kerja apa? PT?”

Rani : “pelayan caffe om”

Rita : “haiii!!! Kangen banget iih ran”

Rani : “haaay.. iyaa aku juga rit”

Rita : “Om, aku rencananya mau ikut kerja sama rani dijakarta gimana boleh ga om?”

Om Adi : “gimana ya? Kerja di caffe? Nanti apa kata orang?”

Rita : “kan kita kerja nya bukan yang macem macem om”

Om adi : “memang sistem kerja disana bagaimana ran? Dan alamatnya dimana?”

Rani : (aku menjelaskan sistem kerja disana) alamatnya di Jl.Kasih no 08D, grogol, jakarta barat.

Om Adi : “saya ga setuju pokonya kamu kerja disana. Walaupun bagus sistem kerjanya disana. Kamu anak perawan apalagi jauh, om tidak setuju”

Setelah puas berbincang bincang dan jumpa kangen dengan sahabatku. Aku mohon pamit dan segera melesat menuju rumahku.

Setibanya dirumah aku disambut dengan senyuman sumringah oleh wanita separuh baya yang sedang menggendong anak kecil. Yaa, siapalagi dia ibukku dan adikku. Aku memiliki 2 adik dan itu perempuan semuanya.

Mama : kok baru sampe? Habis dari mana dlu?

Aku : hehe maaf ma. Tadi aku mampir kerumah rita dulu sebentar.

Mama : oh yasudah sana mandi. Mama siapkan makanan untukmu dulu.

Aku: siap ma.

Setelah selesai mandi dan makan. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, dan memejamkan mataku. Entah mengapa otakku terus memutar pertemuanku  dengan om Adi. Terekam jelas diotakku, mendayu Dayu dan setiap ucapan kata Adi mengiang-ngiang ditelinga ku. “Ah

sudahlah” aku berusaha keras agar segera tidur lelap. Setelah konflik batin antara logikaku dengan hatiku yang mulai mereda, akhirnya usahaku berusaha untuk tidur berhasil.

Keesokan hari nya aku berpamitan kepada ibu dan nenekku untuk pergi kembali ke jakarta. Mereka melepasku dengan berat hati. Namun mau bagaimana lagi. Aku sudah harus belajar mandiri.

aku sedang berjalan menyusuri sawah dan sungai menuju gang rumah ku. Tiba tiba hp ku berdering.

Aku : “hallo? Maaf dengan siapa?”

Penelfon : “saya Om adi ran. Kamu sekarang dimana?”

Aku: “aku dijalan gang rumah ku mau berangkat lagi kejakarta. Ada apa om?”

Om Adi : saya ingin bertemu kamu sebentar. Kirim lokasi rumahmu saya kesana sekarang.

Aku : kita ketemu di suatu tempat aja om. Aku share lokasi aja ya”

Om Adi: “yasudah. saya segera kesana”

 

Aku bergegas pergi ke sana. Aku heran ada apa sebenarnya? Mengapa om adi seperti ingin sekali bertemu denganku? Hatiku berdegub kencang. Aku berusaha membuang semua fikiran fikiran negatifku. Tak lama aku tiba di warung mak ijah. Seperti biasa warung itu selalu dibanjiri pengunjung. Aku mencari cari dimana om adi. Dan ada lelaki dari arah pojok kanan memanggil ku. Dan  sosok lelaki tersebut menggunakan jaket kulit berwarna coklat. “Ya itu om adi” aku menghampiri nya segera.

Om Adi : “silahkan duduk”

Aku : (sedikit canggung memang karna kita baru kenal) “emm iya. Terimakasih”

Om Adi : “kamu mau pesan apa?”

Aku : “nasi goreng sama teh anget aja”

Om Adi : “oke. Mba! Nasi goreng dan teh anget 2 ya!”

Aku : “sebenernya ada apa sih om minta ketemu aku?”

Om Adi : “ada yang ingin saya bicarakan denganmu, kita bicara kan setelah selesai makan saja”

Aku menggerutu dalam hati “ah, kelamaan bikin penasaran aja”. Tak lama pesanan kami pun siap. Kami menyantap makanan itu dengan senang hati. Memang masakan diwarung mak ijah sangat lezat, tak heran jika setiap harinya selalu dibanjiri pengunjung.

15 menit berlalu setelah kami berhasil menghabiskan makanan kami, om adi pun membuka pembicaraan.

Om Adi : “ran, sebenernya kamu bukan bekerja sebagai pelayan caffe saja kan?”

Aku : (detak jantungku mendegup kencang) “hahaha om adi ada ada saja. Aku pelayan caffe aja om”

Om Adi : “semalam saya cari info tentang pekerjaan mu disana, ada kawan saya yang rumahnya dekat dengan tempat kerjamu. Saya tau segalanya informasi tentang mu dan pekerjaanmu. Masih ga mau jujur? Saya sudah tau semua ran”

Aku : “memang apa yang om tau tentang aku dan pekerjaan ku?”

Om Adi : “kamu bukan hanya jadi pelayan caffe tapi kamu juga melayani pengunjung caffe yang siap membayarmu lebih. Iya kan?”

Rani : (tercengang mendengar perkataanya aku langsung menundukkan pandangan)

Om Adi : “saya tidak bermaksud membuat mu malu. Tidak sama sekali tidak. Saya menganggapmu seperti adik saya sendiri. Saat saya tau kebenaran ini hati saya tersayat sayat. Kenapa kamu bisa melakukan pekerjaan seperti ini?”

Rani : “saya terpaksa, saya frustasi, saya deprsi”

Om Adi : “saya melarangmu pergi kesana lagi. Tanpa alasan apapun!”

Aku: “lho? Apa hak om melarang saya? Memangnya om siapa saya? Ini pekerjaan saya satu satunya. Keluarga saya dirumah membutuhkan uang”

Om Adi: “tenang saja ran, masih banyak pekerjaan yang halal. saya akan memberikan pekerjaan yang layak untukmu! Jangan khawatir. Saya sedang merintis bisnis alat multimedia fisual terapi. Kamu bisa bekerja dengan saya. Saya tetapkan kamu sebagai manager, tapi kamu tinggalkan pekerjaanmu itu”

Aku : “iya om”

Om Adi : “sekarang kita ke tempat kerja mu, kemasi barang barangmu disana. Urusan meminta izin ke atasanmu saya yang urus”

Entah mengapa aku merasa terharu dan keputusan untuk mengakhiri pekerjaanku itu pilihan yang tepat. Miris rasanya aku bisa melakukan hal keji macam itu. Marah, sedih, kecewa, menjadi satu. Dan aku menyadari bahwa yang aku lakukan selama ini salah besar. deraian air mata dan isak tangis pilu yang menghiasi suasana di meja makan kami. Aku beruntung ada yang menarik ku dari jurang yang gelap. Aku tersadarkan dan menemukan setitik cahaya terang untuk kembali menjalani kehidupan ku yang normal dan semestinya.

Seperti terhipnotis aku mengiyakan semua perkataan om adi. Dan kami bergegas pergi kejakarta untuk meminta izin berhenti kerja.

Setelah kejadian itu, aku semakin dekat dengannya. Hampir setiap malam aku selalu telfonan, dan bersenda gurau dengannya. Baru beberapa Minggu aku mengenalnya, aku merasa bahwa dia yang selama ini aku cari. Kenyamanan yang dia beri kan kepada ku itu sangat berbeda dari semua laki-laki yang pernah menjalin hubungan denganku. Perlakuan dia terhadapku pun sangat berbeda dari yang lain. Ini yang membuat aku jatuh cinta padanya. “DIA BEDA”. Siapa yang tidak luluh, lelaki yang baik, pengertian, perhatian, mapan, dan Sholeh. Aku rasa semua wanita menginginkan hal itu. Dan itu masuk ke kriteria semua wanita.

Semakin hari aku semakin dibuatnya jatuh cinta, sampai pada titik dimana Pencapaian terbaik dalam pencarian ialah ketika menemukan seseorang, seseorang yang membuat kita berhenti, untuk mencari. Ya dia adalah sosok yang aku cari. Orang yang bisa mengerti aku, membimbing aku, orang yang selalu memberikan kesan indah, memberiku warna, melukis kenangan, dan selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri.

Tapi aku membungkus semua harapan itu, dan mencoba mengubur dalam dalam semuanya. Karena mana mungkin dia juga cinta kepadaku? Apa ada yang mau dengan wanita keji seperti ini? Aku rasa itu mustahil. Kalaupun ada yang mau, mungkin ada yang mereka inginkan dariku. Ya semua di dunia ini tidak ada yang gratis. Apa yang mereka beri selalu mengharapkan imbalannya. Lagi pula umurku terpaut jauh dengan dia, dan seperti awal perkenalan kita, dia sudah menganggap ku seperti adik nya sendiri. Aku rasa alasan ini cukup jelas untuk membuatku mundur. Dan melupakan semua perasaanku padanya.

Semakin hari aku tidak bisa memungkiri bahwa perasaanku kepadanya semakin besar. Dilema yang terus membuat dikurangi kacau. Apakah dia juga mencintaiku? Apakah harapanku ini berlebihan? Apa aku hanya kege’eran? Apa yang harus ku lakukan? Aku wanita, apa aku yang harus memulainya? Aku tidak seberani itu. Tapi bagaimana dengan perasaanku? Aku butuh jawaban. Aku butuh kepastian. Apakah aku salah jika aku berharap padanya? Jelaskan padaku dimana letak kesalahanku? Aku seorang wanita, jika terus dipupuki oleh benih kasih sayang dan perhatian terus menerus apakah benteng akan tetap kokoh? Apa ini? Perasaan macam apa? Aku berharap kepadanya tapi itu hanya bisa aku ungkapkan sendiri pada diriku di dalam hati. Bahkan untuk sekedar diucapkan oleh bibirku yang hanya didengar oleh diriku sendiri pun tak mampu. Tuhan.. apa aku salah jika aku mencintai lelaki Sholeh sedangkan aku wanita yang kotor?

Aku rasa nya sudah tak bisa membendung lagi dan pasti akan meluap suatu saat nanti, hingga akhirnya aku memutuskan aku yang memulai semuanya. Aku memberanikan diri untuk melenyapkan rasa penasaranku.

Rani : “mas, ada yang ingin aku bicarakan”

Mas Adi : “iya silahkan”

Rani : “maaf mas, aku lancang, aku ga bisa nahan diri aku buat ga berharap sama mas. Semakin lama aku Deket sama mas, semakin dalam harapanku ke mas. Aku tau mas hanya anggap aku sebagai adik mas. Aku sadar itu. Maka dari itu aku memutuskan untuk mundur. Karena aku takut tersakiti oleh harapanku sendiri mas”

Mas Adi : “iya, memang dulu mas mengganggap mu seperti adik mas sendiri. Tapi sekarang perasaan mas berubah ke kamu ran, mas sayang ke kamu bukan sebagai adik. Tapi mas takut kalo mas hanya memberi harapan palsu ke kamu ran. Mas takut kalo ternyata kita ga jodoh dan itu membuat hati mu lebih terluka ran. Itu yang mas takutin. Makannya sampai sekarang ini mas ga pernah bilang mas mau jadi pacar kamu. Karna mas takut ran”

Rani : “tapi aku juga gabisa terus terusan gini mas. Aku takut semakin lama semakin dalam dan semakin sulit untuk menguburnya”

Mas Adi : “ran, apa si pentingnya sebuah status? Memang harus ya semua hubungan harus jelas status nya? Mas Rasa engga. Yang terpenting adalah apa yang mereka jalin. Yang membedakan hanya status. Rasa dan lain sebagainya sama kan? Toh kalaupun kita jodoh kita pasti akan bersatu, makannya kita sama sama perbaiki diri dan memohon petunjuk ke Allah agar kita tidak salah menambatkan hati kita”

Rani : “iya aku ngerti mas. Maaf aku egois. Aku cuman takut mas seperti lelaki yang lain. Yang hanya memanfaatkan ku”

Mas Adi : ” mas tulus sama kamu ran. Gaada sedikitpun niat apalagi untuk mencoba memanfaatkan ku ran ”

Seperti racun yang menemukan penawarnya. Kegelisahan ku sirna seketika saat mendengar semua pernyataan dari mas Adi. Lega rasanya bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan yang paling terpenting adalah bahwa dia tidak memanfaatkan ku.

About Karomah ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com